Kalimantan, Rimba yang Dikremasi Cakrawala

Hutan gambut Kalimantan yang terbakar: pohon hangus berdiri sendiri di bawah langit penuh asap.
HoM Haute · Ideas · Kalimantan · Puisi

Rimba yang Dikremasi

Sebuah puisi dari Maariyah tentang hutan Kalimantan yang terbakar, dan apa saja yang ikut hilang bersama asapnya.

Puisi · Maariyah, BalikpapanPengantar · HoM HauteOktober 2026
Gulir pelan

Setiap kemarau, kabar dari Kalimantan sering sampai lebih dulu lewat hidung: bau sangit, langit kuning, udara yang berat.

Tahun ini Maariyah, penyair, pendidik, dan peracik wangi dari Balikpapan, Kalimantan Timur, menuliskannya dalam satu puisi. Ia menulis dari pulau yang sama dengan hutan yang terbakar itu. Kami menerbitkannya utuh, lalu membaca baris-barisnya bersama data musim ini.

Ringkasan 30 detik
  • Puisinya. Maariyah menulis tentang hutan Kalimantan yang terbakar dan nama-nama yang hilang bersamanya.
  • Datanya. Sekitar 33.837 hektare lahan terbakar di Kalimantan sepanjang Januari sampai Juli 2026, menurut Walhi.
  • Intinya. Api ini punya tangan, dan yang ikut hilang bukan hanya pohon: udara bersih, bau hujan, dan arsip wangi pulau.
Sekitar 6 menit membaca
01
Satu · Puisinya

Kalimantan, Rimba yang Dikremasi Cakrawala

Kata bergaris putus-putus bisa diketuk untuk melihat artinya.

I

Kau lihat tidak, apa itu?Sejumput pendar badar tak sanggup bersolekmenembus malamnya.Awang-awang bukan lagi tempat dudukbagi para empu .Setimbun kain kafan dibentangkan di atas rangka rimbayang tak sempat beringsut merampungkan pintanya.

II

Akar-akar terpanggang, menghitam . menggigit lidahnya sendiri.Terdengar deru ,lagi-lagi siapa yang akan mengindahkan sayup tanah?Hei, kau buta?Insan telah lama menjadikan sebagai izin untuk mengganyangkan.

III

Api menyulur menyeret kabar burukyang tak kehabisan pembawa.Ia menjilati kulit pohon, mengunyah usiayang ditanam berabad-abad.Melumatkan gubuk yang dibangun dari peluholeh makhluk yang tak kenal arti kepemilikan.

IV

Sudah kubilang, mereka tahu rimba kemarin adalah bahasa.Hari ini sekedip terkoyak tak memiliki .Di atas mereka, asap merabung menjumpai .Tanah gambut memarak dalam rahim rimba.Membawa nama-nama yang tak pernah dicatat.Nama pohon yang kadung jelabak sebelum renta.Nama sungai yang kehilangan citranya.Nama burung yang melangit,buta kemana mesti meletakkan pagi.Nama anak-anak yang pucat pasi,asing mengenal bau hujan.

V

Betapa ganjil manusia.Tersebut musibah, dikira apitanpa tersentuh tangan manusia.Tumbuh dari pembiaran, dari ketamakanyang mengenakan pakaian necis lagi ,dari vonis yang dibuat jauh dari aroma dan pekik makhluk yang kehilangan hunian.

VI

Tunduk? Untuk siapa?Kembang merekah lembam juga.Hawa sengit.Curiga mengelucak dihimpit.Di atas kuburan rimba, sejarah menorehkan satu :nafsu purba, birahi kuasa.

Maariyah · Balikpapan · 12 Oktober 2026Baca wawancaranya · Interview 20 →
Insan telah lama menjadikan nyenyat sebagai izin untuk mengganyangkan.
Maariyah
02
Dua · Api di bawah tanah

Gambut tidak padam dengan cepat

“Tanah gambut memarak dalam rahim rimba,” tulis Maariyah. Baris itu hampir harfiah.

Gambut adalah tumpukan sisa tumbuhan yang tidak sempat membusuk selama ribuan tahun, tersimpan di tanah yang basah. Saat dikeringkan dan terbakar, apinya bisa merambat di bawah permukaan. Peneliti Harvard dan Columbia yang mempelajari kebakaran 2015 mencatat bahwa api gambut menyala pada suhu yang relatif rendah dan bisa membara berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebelum padam. Karena itulah asapnya begitu tebal, dan karena itulah ia sulit dipadamkan dari atas.

Musim ini Kalimantan kembali menjadi pusatnya. Menurut catatan Walhi yang dikutip Mongabay, sepanjang Januari sampai Juli 2026 ada 34.262 titik panas dan sekitar 33.837 hektare lahan terbakar di Kalimantan. Kalimantan Barat yang terluas, sekitar 28.680 hektare.

33.837haLahan terbakar di Kalimantan, Januari–Juli 2026 (Walhi)
34.262Titik panas di Kalimantan pada periode yang sama (Walhi)
03
Tiga · Bukan dari langit

Api yang punya tangan

“Tersebut musibah, dikira bumantara menjunamkan api / tanpa tersentuh tangan manusia.”

Kata bencana membuat api terdengar seperti cuaca, sesuatu yang turun begitu saja. Angkanya berkata lain. Pada 2019, Kepala BNPB saat itu menyebut 99 persen kebakaran hutan dan lahan disebabkan ulah manusia, dan sekitar 80 persen lahan bekas terbakar kemudian menjadi kebun. Tahun ini Walhi mencatat sekitar 74 persen titik panas di Kalimantan berada di area berizin: perkebunan sawit, pertambangan, dan izin pemanfaatan hutan. Walhi juga menolak anggapan bahwa peladang tradisional adalah penyebab utamanya.

Dari setiap 100 titik panas di Kalimantan tahun ini, sekitar 74 berada di area berizin (Walhi, Januari–Juli 2026).

Puisi ini menyebutnya lebih tajam: ketamakan “yang mengenakan pakaian necis lagi parlente”, dan vonis “yang dibuat jauh dari aroma sangit”. Keputusan tentang hutan sering diambil di ruangan yang tidak pernah mencium asapnya.

04
Empat · Yang ikut hilang

Anak-anak yang asing dengan bau hujan

“Nama anak-anak yang pucat pasi, / asing mengenal bau hujan.”

Yang seharusnyaBau hujan

Tanah kering yang basah lagi. Salah satu wangi yang paling dikenal manusia.

Yang dihirupBau sangit

Gambut, kayu, dan rumah yang hangus. Asap yang tinggal berminggu-minggu.

Pada pekan 7 sampai 14 Agustus 2026, Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah mencatat kasus ISPA naik 39,2 persen menjadi 2.052 kasus, dan sekolah di tiga kabupaten beralih ke pembelajaran daring. Di Kalimantan Barat, kasus ISPA di rumah sakit dan puskesmas naik sekitar 30 persen. Untuk kebakaran besar 2015, sebuah studi di jurnal Environmental Research Letters memperkirakan asapnya menyebabkan lebih dari 100.000 kematian dini di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Bagi rumah wangi, ada kehilangan lain yang jarang disebut. Gaharu, kapur barus, dan damar, bahan yang membuat nama Borneo dikenal pedagang sejak lama, tumbuh di hutan yang sama. Dunia parfum menyukai bau asap: dupa, gaharu yang dibakar sejumput sebagai bukhur. Tapi asap itu dipilih, ditakar, dan dibakar sedikit. Asap karhutla tidak dipilih siapa pun, dan yang terbakar adalah arsipnya sendiri.

05
Lima · Setelah membaca

Yang bisa dilakukan

Bantu yang memadamkan

Pintu-pintu donasi untuk karhutla dan pemulihan hutan Kalimantan, dikumpulkan di Papan Betang.

Lihat pintu donasi

Bagikan puisinya

“Siapa yang akan mengindahkan sayup tanah?” Satu orang lagi yang membaca berarti satu orang lagi yang mendengar.

Kirim tulisanmu

Puisi, cerita, atau catatan dari kampung. Jurnal ini terbuka untuk suara dari Kalimantan.

DM @homhaute
Epitaf
nafsu purba, birahi kuasa.

Baris terakhir puisi Maariyah, ditorehkan di atas kuburan rimba.

Harum Oleh MemoriPuisi dari Balikpapan, Kalimantan Timur
Sumber
  1. Maariyah, “Kalimantan, Rimba yang Dikremasi Cakrawala” (12 Oktober 2026).
  2. Mongabay Indonesia, Ketika kebakaran hutan dan lahan menggila di Kalimantan (6 Agustus 2026), mengutip data Walhi. mongabay.co.id
  3. Akurasi.id, Daftar kebakaran hutan di Kalimantan 2026, mengutip Dinkes Kalteng, BPBD, dan BNPB (Agustus 2026). akurasi.id
  4. Sekretariat Kabinet RI, Kepala BNPB sebut 99 persen karhutla ulah manusia, 80 persen jadi kebun (2019). setkab.go.id
  5. Harvard SEAS, Smoke from 2015 Indonesian fires may have caused 100,000 premature deaths (2016), tentang studi di Environmental Research Letters. harvard.edu

Angka 2026 bersifat sementara dan bisa berubah seiring pembaruan data resmi. Arti kata pada puisi adalah arti umum; penyair bebas memakainya dengan rasa sendiri.

Arti kata